Selasa, 13 Januari 2015

Allahu akbar.. Allahu akbar.. Allahu akbar..!!!

BAHAYA MENUKARKAN HIDAYAH ALLAH DENGAN PERMAINAN DAN KESOMBONGAN DUNIA
Allah subhanahu wa ta’ala memberikan perbandingan kepada orang orang beriman akan besarnya nilai akhirat dibandingkan dengan nilai dunia sebagaimana dalam firman-firman-Nya
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.” (Aali Imran: 133)
“Allah meluaskan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).” (Ar-Ra’d: 26)
Seorang beriman yang menghayati akan ketekunannya beribadah, ketekunan dalam sholatnya, tentu akan berusaha menyakini firman-firman Allah tersebut. Disetiap ruku’ dan sujud, orang-orang beriman selalu mengagungkan Allah dengan ucapan-ucapan tasbih, memuji Allah Tuhan yang Maha Agung, memuji Allah Tuhan yang Maha Tinggi. Dan hal itu tentunya akan berimbas pada ketekunannya pada ketaatan dalam mengamalkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Muhammad salallahu ‘alaihi wasallam.
Allah subhanahu wa ta’ala Tuhan yang Maha Perkasa telah membuat aturan-aturan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah lewat Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam, tentu orang-orang yang benar imannya akan sangat menjunjung tinggi aturan-aturan tersebut untuk dapat ditaati dan diamalkan dalam kehidupan nyata di dunia ini. Karena Allah Tuhan semesta Alam yang paling tepat mengatur segala ciptaannya.
Ujian-ujian mendera umat manusia dalam memegang teguh agama. Kesenangan dunia yang memikat dan tertampang di depan mata sering mengaburkan janji-janji Allah yang kadang masih tersimpan di akhirat kelak. Nilai-nilai keyakinan terhadap janji-janji Allah akan segala kesenangan akhirat terhapus dengan kesenangan instant yang sedang tersuguhkan di depan mata dunia. Walhasil, jiwa manusia menjadi terguncang, dan banyak yang kemudian lebih suka memilih dunia dan kemudian mengabaikan akhiratnya.
Allah sudah memberi peringatan-peringatan kepada seluruh lapisan umat Islam agar mereka tidak menukarkan kemulian yang kekal dengan kesenangan dan kesombongan dunia yang sangat sementara, sebagaimana firman-Nya:
“Apakah kamu menghendaki untuk meminta kepada Rasul kamu seperti Bani Israil meminta kepada Musa pada zaman dahulu. Dan barang siapa yang menukar iman dengan kekafiran, maka sungguh orang itu telah sesat dari jalan yang lurus.” (Al Baqarah: 108)
“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): ”Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya,” lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruk tukaran yang mereka terima.” (Aali Imran: 187)
Ayat-ayat di atas ada yang Allah tujukan kepada umat awam dan ada pula yang Allah tujukan kepada pemimpin-pemimpin agama yang telah menjadi panutan kaum awam. Allah melarang orang-orang beriman menukarkan nikmat-nikmat petunjuk dengan kesenangan dunia, yang sering disimbulkan dengan takhta, harta dan kesenangan, kesombongan dunia.
Dengan semakin membanjirnya budaya-budaya memperturutkan kesenangan syaitan dan hawa nafsu, suasana kehidupan ruhani manusia semakin menjadi gelap, sehingga orang semakin tidak mampu menemukan cahaya kebenaran yang dipegang teguh oleh umat manusia.
Manusia banyak yang telah terlupa dan terlena, di usianya yang semakin menua, usia yang sudah berbau tanah, terus menerus saja berebut kesombongan dunia. Demikianlah kesesatan orang-orang yang terbius kesenangan dunia.
Disaat manusia tidak memahami tujuan hidup dan bagaimana mengisi hidup di dunia. Maka instingnya (instinct) akan mengajak mereka untuk mengisi kehidupan dunia dengan sesuatu yang dianggap bermanafaat, tetapi ternyata semua itu kadang-kadang hanyalah kesenangan dunia yang menipu, kesenangan dunia yang kecil dan kesenangan dunia yang sementara. Kita berlindung kepada Allah dari keadaan yang demikian. Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar